Langsung ke konten utama

Percakapan Tengah Malam

                 Ini adalah percakapan tengah malam antara teman satu kostan saya di tengah malam. Kami berasal dari Sekolah Menengah Atas yang sama, berasal dari kota yang sama dan bahasa yang sama menjadikan dia adalah 'tempat berpulang' sejenak dari perantauan.
                 Kami memiliki kisah yang bisa dibilang sama. Sama-sama memiliki cita-cita yang kandas (atau mungkin tertunda), sempat memiliki pilihan hidup yang sangat sulit untuk dipilih (karena tadinya bukan sebuah pilihan) dan akhirnya terjebak disini, kampus yang sama dan tempat yang sama.
                 Senangnya bisa berbagi meskipun kami saling tidak memberikan solusi, tapi setidaknya ada yang mendengar dan memiliki nasib seperti saya. Cita-cita kami untuk menuntut ilmu di tanah kelahiran kami kandas, membuat kita tidak percaya dimana kita berada sekarang. Seperti lingkungan saja tidak cukup mengingatkan bahwa mimpi yang dulu sering kami semogakan itu telah pergi dan doa-doa yang kami panjatkan tidak terkabul (atau belum).
                Baik saya maupun teman saya, telah sangat percaya diri bisa diterima di kampus impian kami masing-masing, setiap try out dan latihan dapat kami lewati dengan kata "Lulus", setiap doa telah dipanjatkan setiap malam, juga dukungan penuh dari orang-orang yang semakin mendorong saya dan teman saya meraih impian itu.
               Tapi apa yang terjadi?
               Semua rencana kami gagal, semua rencana hidup kami telah berubah total seribu persen. Tuhan tidak mengizinkan, Tuhan belum mengizinkan. Memang rencana Tuhan lah yang sangat istimewa, kadang sesuatu yang pasti tidak selalu dapat dipastikan. Tidak pernah dapat dipastikan.
              Yang kami lakukan dengan takdir kami yang ada adalah, merencanakan hal baru, merencanakan dan membentuk mimpi kami yang baru, mungkin yang lebih tepat adalah beradaptasi dan menyesuaikan dengan apa yang kami punya sekarang.
              Semoga kita saling menemukan alasan, kenapa kita ada disini ya Sal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Novel Lima Sekawan ke Sarang Penyelundup

I.           Identitas Novel Judul                      : Five go to smuggler’s top Judul Terjemahan   : Lima Sekawan ke Sarang Penyelundup Pengarang               : Enid Blyton Penerjemah             : Agus Setiadi Penerbit                 : PT Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit          : Mei 1997 Kota Penerbit         : Jakarta Jumlah Halaman      :272 Halaman II.        Unsur Intrinsik Novel Tema                   ...

Abu

Dosa abu dari percaya. Tapi, percaya adalah pupuk yang tidak jelas apa bentuknya, tidak ada wujudnya, mungkin spektrum warna? Ketakutan penuh dalam memori, hingga yang buruk pun ku anggap biasa. aku melindungi diriku sendiri dengan cara yang jahat, bukan karma, kifarat namanya. hingga hari ini, aku percaya, tidak pernah ada manusia yang terlahir baik. tidak ada yang terlahir dengan perasaan "aku akan menjaga hati, bermanfaat bagi orang lain, aku tidak peduli apa yang ku tuai sebanyak apapun yang kutabur" semuanya terasa lebih baik ketika percaya segala hal di dunia ini tidak ada yang baik Takut, sungguh. takut bahkan hanya sejengkal kata kata yang tidak ada artinya. bahkan mahluk sedarah, sekampung halaman, sehati sekalipun. lalu tidak ada yang pernah melakukan kebaikan tanpa pamrih ya rasanya! aku patah patah patah, dalam ketakutanku sendiri. kenapa ya?  Tuhan mematahkan hatiku berkali-kali untuk menciptakan ketakutan pada mahluk-Nya? kenapa ya? Lindungi aku ya Tuhan, dari h...

❤️

  Abi!  Terima kasih ya sudah berjuang sejauh ini. Terima kasih yaaa untuk kasih sayang yang ga pernah putus setiap hari nya, ga pernah nyerah, ga pernah capek sedikitpun, ga pernah ngeluh. Aku dengar, baca, lihat seseram dan setakut apa pernikahan itu. Tapi, kok semuanya ternyata mudah ya kalau sama abi?  Empat tahun bukan waktu yang sebentar.. lama sekali ya? Kok bisa setiap hari abi ga pernah gak mau untuk lihat kayi, ga pernah ga mau untuk denger cerita kayi, selanjutnyaa kita lanjutkan di tahun tahun berikutnya sampai kita mati. tapi mau bareng aja deh, gimana kalau ngga ada aa :(  Cinta yang katanya una ini sedih capek ribet blablabla itu aku udah ga kenal, udah lupa rasanya kalau katanya capek. soalnya sama abi ngga... rasanya abi dan kayi itu udah satu tubuh, udah satu pikiran, satu hati, semuanya. Dunia ini emang jahat ya kadang-kadang bi. tapi empat tahun ini abi udah buktiin dan selalu bilang "ayolah lawan jir bareng" bener. world is cruel, its us againts ...