Langsung ke konten utama

Postingan

-

Kita adalah sayap yang patah. Kita adalah suara yang sayup. Kita adalah cerita yang usai kata si sutradara. Kita adalah pulang yang tak punya rumah. Mengusahakan bahagia, Mencintai senyum Dan tawa Meski jatuh lagi sampai berkali kali Kita lari dan bersembunyi Ketakutan Menangis sendirian Diguyur hujan Diombang badai Sendirian Gelap, hingga kadang tak peduli dicaci maki Dingin, hingga kadang tak peduli kesepian Kita hidup sendiri-sendiri. Sampai puas. Sampai masa muda jadi mati. Aku hidup diantara gemerlap pukul dua belas malam, Kamu hidup diantara gemerlap di rumah kosong Aku hidup diantara teriakan menteri dan staf ahli Kamu hidup diantara teriakan ambisi sendiri Aku hidup pukul delapan pagi, hingga terbunuh pukul lima sore Kamu hidup sebelum fajar terbit, lalu tertampar ditengah hari Tuhan, kita belum lelah. Kita belum lelah. Kita masih si penikmat kopi susu Kita masih pembaca ulung Kita masih kecil yang ingin cepat dewasa atau cepat terbunuh Atau...

Tulisan

Sekarang aku paham betul, mengapa banyak penulis hidup sendirian. Tulisan tulisan hebat timbul dari pemikiran dan malam yang bijaksana, tumbuh dan berkembang diluar nalar rasa manusia. Beberapa penikmat nya terkejut dengan tulisan yang menampar, menyentuh dan mencintainya sekaligus. Bukan menggeneralisir, contoh saja enid blyton, agatha christie hingga ika natassa. Pemikiran hebat nya tentang rasa atau fantasi memang memukau, diluar nalar dan diluar kesanggupan mata untuk menahan air yang jatuh. Pendamping hidupnya harus menjadi kuat untuk menyaksikan pemikiran mereka yang terus jatuh dan bangun, liar dan bebas. Karna menurutku, penulis mampu melihat dari sekedar langit, melihat dari sekedar kayu atau jerapah, melihat dari sekedar seseorang yang melintas. Ia sadar setiap bentuk atau mahluk yang diciptakan, memiliki rasa dan alasan. Memiliki senyum tangis atau kisah. Penulis memang ajaib. Jika guru bisa diusahakan dengan belajar, Jika tentara bisa diusahakan dengan...

2025

semakin menua, semakin penuh untuk hidup aku tak lagi takut untuk punya rasa tak takut lagi patah atau rusak tak takut lagi marah sedih kecewa bahkan bahagia karna rasa adalah apa katanya me rasa dan di rasa utuh tanpa penolakan yang kutakuti bukan lagi rasa takut tapi ketakutan ketika tidak lagi merasa dan mengingat Ketakutan akan lupa Karna sekecil apapun,  Cerita, kenangan dan tempat jalan, bicara dan manusia dengar, sentuhan, dan kata setitik apapun itu aku ingin mengingatnya dan tidak melewati satu detikpun tempat yang rusak atau tempat yang bahagia sama saja bukan? manusia yang itu atau manusia yang lain sama saja bukan? cerita yang sayup atau cerita yang rapuh dan berisik sama saja bukan? semuanya ingin diingat, dan perlu diingat. karna semua terjadi dengan alasan. mungkin benang merah untuk cerita besok atau lima tahun lagi. tempat, manusia atau cerita yang kita temui, mungkin adalah kunci di ...

sparkling

I've been writing much stories like this. With many version, sometimes its get lost to my insecurities, my broken hearted, my boy or maybe just losing poem. With losing words. I hope its the best version of my story. So here we are. I've been quarantined for one weeks on my own home, yea it feels good. Seeing your momma gettin weird, another version of your daddy, and seeing your brother growing ups. Its beautiful yet so depressing. Cause i never cant see it everyday. One thing i realised, i miss those town. With that sparkle building, traffic jam, and all the people that always in hurry. Yes, jakarta. I'm suprised that i will missing the city, the most hated place in the world, someone say it is on #3 in the world. I agree with that. 2018. I've been get lost for a few weeks. I mean, not gettin lost in the other city or gettin lost in social media. No I'm not. I lost my self. Maybe from june to november, or july to december. I dont really remember, and i dont...

Ucapan Akhir Tahun untuk Empat

Sudah hampir menyentuh tahun kedua. Luka kita berdua belum juga sembuh, belum juga mengering, belum juga siap untuk berpetualang lagi. Aku adalah kariza yang tetap sama, Memikirkanmu dengan bayangan terbaik yang kupunya, memikirkanmu dengan memori terbaik yang kita punya, dan wangi yang paling kusuka. Aku bahagia melihatmu berdiri di ujung meja, beratmu yang bertambah juga otakmu yang mematang. Mendengar suaramu yang tak juga belum fasih mengucap huruf r dan tawa yang tidak berubah. Aku ingin menangis dan tertawa di saat yang sama, karna Tuhan mengabulkan doaku di saat yang tidak terduga. Dunia disekelilingku berubah setiap harinya, kadang baik, seringkali buruk karna tenggelam dalam kejahatan kota jakarta. Bandung, hujan, dan kamu. Mengobatiku penuh, hingga kemarin, hari ini dan esoknya, aku lupa waktu untuk melakukan apa-apa. Karna sekali lagi dan berkali-kali, kamu lebih dari cukup. Aku adalah kariza yang senang mendengar tentang apapun soal kedokteran, karna sampai kapan...

Titipan

Selamat malam menuju pagi empat, Apa kabar? Maaf aku tidak lagi banyak menulis karna disibukkan oleh urusan-urusan yang melengkapi kita dikemudian hari. Tentang kamu dan si cantik bernama dita, aku sudah titip pesan lewat tuhan. Aku bilang, semoga kalian berdua selalu disehatkan dan diberikan kebahagiaan. Aku juga titip bisik lewat tuhan, semoga dia mengerti kamu, seperti dulu aku yang memahami kamu. Aku titip salam lewat tuhan, semoga dia menjaga hati dan akalmu selalu, agar pikiranmu yang terus sibuk dengan masa depan itu, terjaga waras dan tetap teguh membumi dan menyenangkan. Karena bahagiamu, adalah hal yang lebih dari cukup. Aku merindukanmu seperti kota Jakarta yang merindukan udara malam Bandung Utara.

Qadar

Aku percaya takdir, tapi meragukan apa itu kebetulan. Ketika di malam itu aku berdoa, tapi berkali-kali kamu yang ditandai oleh Tuhan. Kamu bisa apa? Mungkin sebuah pertanda, kebetulan, atau sekedar pelipur lara? Di malam keberangkatanku, kamu hadir di mimpi, tidak bercakap apa-apa, hanya tersenyum dan memberi isyarat bahwa "ayo lihat langit". Padahal belum sekalipun aku bertemu atau melihat wajahmu. Sekali lagi, di malam ketika tangis ku pecah selama hampir enam jam. Selepas adzan magrib, kami bilang "gue otw situ kar". Bahkan tak sepatah kata aku ucap. Bahwa tangisku kupendam sendirian, kamu selalu hadir didalamnya. Sekali lagi, ketika maag ku kambuh dan aku berguling kesakitan, pukul 11 malam kamu bilang "udah makan belum? Ayo makan" Sekali lagi, ketika di malam wisudaku aku dinyatakan menjadi wisudawan ter-kesepian sepanjang hayat, kamu bilang "pacar gue gabisa dateng, nanti lo sama gue ya" aduh, manis. Sekali lag...